Minggu, 13 Maret 2011

Mendaftar PG (Lanjutan 11 Maret)

OK cerita baru bisa dilanjutkan.

Mulai cari info lagi, dan dapatlah info PGIT dan TKIT di Jakarta Pusat yg jadi percontohan PG dan TKIT di seluruh Indonesia. Baru mau survey, ketemu info di dunia maya tentang biayanya. Uang pangkalnya (belum termasuk seragam, SPP dan kegiatan) sebesar 7 juta Rupiah Sehingga kalau ditotalkan jumlah bisa mendekati 10 juta. Dan... itu data  uang masuk tahun 2009. Jelas ini di luar budget saya. Sekolahnya sistem sentra. Tiap kelas paling banyak 10 siswa, dengan 1 guru ditambah 1 guru di tiap sentra. Jadi 2 guru untuk 10 siswa. Sistemnya juga sesuai perkembangan anak. Tapi tetap kendala keuangan membuat saya ga mau memaksakan diri. Apalagi saya juga harus menabung untuk memasukkan Ary nantinyadi suatu SDIT yg sudah saya dan suami rencanakan. dan biayanya di atas 10 juta. So, mau ga mau dengan berat hati PGIT terbaik ini kami coret dari list pencarian sekolah kami.

Terus mulai dech melirik sebuah PGIT di Jakarta Selatan yang ga terlalu jauh dari kantorku. Apalagi rencananya SD nya menjadi inceran kami kelak. Survey saya lakukan sendiri. Sistem sentra. Tiap kelas terdiri dari 5 anak dan 1 guru untuk PG. Gurunya pun bersedia menyuapi anak didik yg masih berumur 2 tahun kalau si anak lagi ngambek dan ga mau makan sendiri. Hal ini saya saksikan sendiri pas survey. Bahkan kata kepala sekolahnya, jika anak susah dibangunkan , belum mandi ke sekolah, guru bersedia memandikan, asal perlengkapan mandi sudah disiapkan dari rumah siswa. Cuma ada yg sedikit mengganjal di pikiran dan hati saya. Karena tiap 5 siswa dipegang 1 guru, terlihat jika guru menyuapi 1 siswa, maka siswa PG yg lain jadi bengong-bengong. Hal ini menjadi tidak masalah untuk anak TK, karena mereka sudah kreatif untuk bermain dan berinteraksi sendiri dengan teman-teman lain. Ganjelan kedua adalah jam masuknya yg jam 7 pagi dan pulang jam 10 utnuk PG dan jam 11 untuk TK di hari-hari tertentu. Wah, karena lokasinya cukup jauh, kok saya sangsi si Ary bisa banguyn sepagi itu.

Namun PGIT di Jaksel itu begitu memikat hati saya dan cukup terjangkau kantong kami. Apalagi anak-anak TK mereka sudah hafal Asmaul Husna (ini saya dengar sendiri waktu anak-anak tersebut menghafalnya sambil menyanyi), hafal do'a-do'a dan lulus TK berarti lulus Iqro 6. Saat itu hati mulai mantap mendaftarkan ke PGIT tersebut.

Namun, nasehat Guru saya semasa mengikuti liqo, yg juga seorang psikolog dan pemerhati perkembangan anak, membuat saya membatalkan keputusan saya.  Kenapa? Beliau menyarankan sebaiknya Ary dididik di rumah agar otaknya di usia 30-an nanti tidak jenuh belajar. Mengingat di PGIT tersebut masuk terlalu pagi, jam 7 pagi (yg buat saya pribadi kepagian buat nak umur 2,5 tahun). Dan baru pulang jam 10, saya sedikit khawaqtir, Ary akan kecapaian dan kok terlihat saya yg terlalu "memaksa" dia untuk sekolah.

Setelah merenungkan dan membandingkan hasil survey (termasuk melihat keceriaan anak) sambil membandingkan dewngan karakter Ary dan tentunya dengan anggaran yg tersedia, akhirnya saya bulat tekat kembali ke rencana awal yaitu memasukkan Ary ke Bintang Bangsaku. Apalagi saya lihat sendiri sewaktu survey dengan Ary, kalau peserta didik di sana ceria dan bisa terpantau oleh para guru setiap perkembangannya dengan sangat rinci di buku rapor yg sangat tebal itu untuk tiap anak. Pertimbangan lain adalah sekolahnya yg menganut sistem sekolah inklusi. Buat saya ini sangat penting buat pembentukan karakter Ary agar luwes bergaul dengan siapa pun:) Plus point paling penting, saya merasa, Ary sangat diperhatikan walau saat itu masih belum jadi murid dan baru survey.

Maka tanggal 11 Maret kemarin, pagi-pagi sekali saya sudah tiba di gerbang Sekolah Bintang Bangsaku. Karena cuma terima 9 murid utnuk kelas Lincah, jelas saya khawatir keduluan orang tua lain. Benar saja, pas proses pendaftaran saya belum selesai benar, sudah datang orang tua murid lain yg mau mendaftar juga. Mengingat saya pernah melihat buku dimana para orang tua yg berminat mendaftarkan anaknya menulis nama, dan nama Ary kalau terlambat jelas sudah masuk urutan waiting list. Maka di pendaftaran yg berisistem adil ini, dimana siapa cepat dia yg dapat, strategi datang paling pagi adalah strategi terbaik.ALHAMDULILLAH, Ary diterima. Satu proses yg penuh deg-degan dilewati.

Biarlah si Ary happy menjalani masa-masa sekolah di Kelompok Bermain dan TK. Belajar keragaman.Belajar sesuai tahap perkembangannya dan tidak kami paksakan. Pelajaran agama tetap kami berikan di rumah dengan sistem cerita dan menyanyi ,juga ikut saya sholat dan mengaji. Toch rencananya nanti di SD ia akan kami masukkan ke SDIT dan SMPIT yg ketat dengan hafalan  Al Qur'an, Hadist dan Bahasa Arab. Tentu saja senjata paling pamungkas tetap adalah do'a pada ALLAH SWT agar Ary menjadi orang sholeh yg selamat serta bahagia di dunia dan akherat kelak, AAAMIIIN.

6 komentar:

  1. waaaah, mas ary dah mau sekolah ya...selamat bermain ya mas ary...karena belajarnya balita sambil bermain kan..he..he..he..

    BalasHapus
  2. Iya Tante Nataya, InsyaALLAH, sekolah ini full bermain, karena diasuh psikolog:)

    BalasHapus
  3. amiiin...
    semoga sekolahnya cocok ya mbak :)

    BalasHapus
  4. Hai Mamanya Ary, aku mamanya Ivana teman sekelas Ary :-)
    Ary anak yg kalem beda jauh deh sm Ivana si "drama queen"

    BalasHapus
  5. Mba Ivana, ternyata si Ary barengan terus ya sama Ivana
    sejak dalam kandungan:))
    sama-sama di dr Alwin dan sekarang
    sama-sama di bintang bangsaku:))

    Ary memang kalem, niru Eyang Kakungnya.
    Kata pengasuh Ary, si Ary suka main sama Ivana,
    mungkin justru karena si Ivana lebih rame kali ya;-)

    Kalau di rumah, si Ary juga lebih pilih bergaul dengan anak-anak sebaya yang "ramai".

    BalasHapus