Minggu, 23 Januari 2011
Sabtu, 22 Januari 2011
Senin, 10 Januari 2011
Belajar menempatkan diri
Belajar menempatkan diri sebagai hamba ALLAH SWT ini yg saya maksudkan dalam curhat kali ini. Benar-benar curhat tentang diri sendiri dan tidak ada maksud setitik pun untuk menyinggung orang lain.
Terlahir dari keluarga yg belajar agama seadanya, ngaji membaca Al Qu'an, sedikit fiqih dan akhlaq, tapi ga ketat melaksanakan perintah ALLAH SWT secara kaffah (CMIIW please kalau salah ejaannya), membuat saya terkaget kaget setelah menikah. Rupanya ini rahasia ALLAH SWT memilihkan suami untuk saya. Suami bukan tipe pemarah bahkan cenderung humoris. Tapi...kalau perkara melalaikan hak ALLAH SWT, duh benar-benar dia sangat marah. Hal yang (tadinya) saya anggap berlebihan, Contohnya jika saya sholat tidak tepat waktu (padahal baru 1 jam setelah adzan Ashar berkumandang. Asli dia sangat-sangat marah.
Dibandingkan dirinya, saya akui saya bagaikan anak yg baru belajar agama. Sebelum adzan berkumandang di tiap sholat 5 waktu, suami saya selalu mandi, memakai pakaian terbaiknya dan wangi-wangian dan cerah ceria ke Masjid. Padahal kalau ke tempat lain, dia ga akan mau pakai wangi-wangian dan baju terbaik.
Lalu masalah kebiasaan saya nonton televisi sampai malam, sehingga saya belum rapi pas adzan Subuh berkumandang, padahal dia sudah rapi wangi, sudah Sholat sunnah dan siap ke Masjid,wah bisa tak ada ampun, teguran keras bahkan sajadah sudah dia gelar untuk saya dan pasti dibangunkan paksa. Dan akan marah kalau jam 5 belum Sholat Subuh karena buat dia sholat ya harus teng tong setelah adzan berkumandang.
Bahkan sampai memeriksa jadwal membaca Al Qur'an. Menempatkan sebagai hamba ALLAH SWT itu ternyata kuncinya dan kok ya bisa pas dengan tema ceramah Shubuh di TV pagi ini. Di ceramah pagi ini Sang Ustadz mengatakan kalau kita ikhlas beribadah pada ALLAH SWT, maka kebutuhan kita pasti akan ALLAH SWT penuhi/cukupkan walau kita miskin dengan cara yg kita ga sangka(CMIIW). Ikhlas menempatkan diri sebagai hamba ALLAH SWT , itu PR yg masih harus saya kerjakan.
Kamis, 30 Desember 2010
Senin, 20 Desember 2010
Minggu, 12 Desember 2010
Debat Suami Istri Mengenai Pilihan Sekolah Anak (Part 2)
Tadinya sempat tenang sejenak setelah menyepakati anak harus masuk I'daad yg dikelola Ustadz Yusuf Mansyur setelah dia tamat SD. Namun dalam silaturrohiim 'Iedhul Fithri kemarin muncul perdebatan baru.
Diawali cerita sepupu suami yg anaknya dipesantrenkan dari kecil. Si anak kelas 2 SD aja sudah hafal 2 juz& SUBHANALLAH, rezeki orang tuanya pun jadi berlimpah dengan rahmat ALLAH SWT. Suami bilang hal itu jadi contoh, bahwa ALLAH SWT pasti meberi berbagai kemudahan kalau kita menempatkan anak kita di jalan ALLAH. Cuma sebagai ibu, jok saya ga tega ya, jauh dari anak yg masih SD pula.
Mulailah saya bergerilya mencari SD yg bisa memenuhi kriteria kami berdua tanpa anak harus dipesantrenkan dari SD. Ketemulah sebuah SD, yg 1 kelas 2 guru, menerapkan pendidikan berdasarkan masa tumbuh kembang anak, tiap tahun anak hafal 1 juz, dan di kelas 5 SD bisa bikin paper dalam bahasa ARAB'dan hafal minimal 100 hadist termasuk 40 hadits Arbain (betul ga ya nulisnya?).
ALhamdulillah, ternyata di suatu semiar pendidkan anak ,saya ketemu orang tua yg menyekolahkan anaknya di SDIT yg lagi saya cari infonya. Dan positif, guru-gurunya persuasif dan suasana belajar katanya menyenangkan. Suami pun kali ini setuju apalagi lokasinya ga jauh dari kantor saya. ALHAMDULILLAH, satu masalah disepakati solusinya, tinggal mulai berinvestasi untuk pembiyaannya. Untuk pemilihan investasi muncul debat baru, yg InsyaALLAH, ada solusinya:)
Debat suami istri mengenai pilihan sekolah anak
Memang anak kami masih kecil. 2 tahun awal tahun depan, namun perdebatan kamu selaku orang tua terhadap pilihan sekolah sudah dimulai dari usianya 1 tahun. Perdebatan dipicu karena keinginan berbeda (yg juga dipicu latar belakang berbeda jauh). Suami inginnya anak di sekolah umum aja,yg pakai BOS, SMP baru dipesantrenkan. Sedang saya yg dari kecil sampai kuliah, ALHAMDULILLAH, selalu di sekolah negeri favorit, ngotot anak mengikuti jejak saya.
Lalu suami bilang,"Kita tetap harus orientasi pendidikan untuk bekal akhirat, karena dia nanti yg akan'mendoakan kita kalau kita sudah meninggal." Jadi malah suami ingin anak ke sekolah berbasis agama atau ke pesantren. Mungkin mengingat saya juga bukan seorang ibu yg bisa menjadi madrasah yg baik bagi anak. Masalah tidak absen pengajian,baca Al Qur'an tiap hari termasuk dengan tadjwid yg benar saja saya masih harus diabsen suami secara rutin.
Kembali ke masalah perdebatan,saya juga ga kalah ngotot. Membandingkan dengan seorang keponakan dan saudara suami yg sekolah di SD dekat rumah,yg menurut saya yg membantu mengerjakan PR mereka, kok ya jauh banget dibandinkan standar kemampuan calistung di SD tempat saya dulu menuntut ilmu. Akhirnya suami mencari jalan tengah,OK ke sekolah pilihan saya tapi setelah itu harus ikut program I'daad dari Ustadz Yusuf Mansyur. Cerita dilanjutkan lagi nanti karena harus dipotong urus anak