Selasa, 16 November 2010
Awal Perkenalan dengan MP (Part 1)
Awal perkenalan dengan yang namanya nge-blog dengan MP adalah bebar-benar karena paksaan seorang Nataya, seorang sahabat baik yang saat itu boleh dikata kami lagi bergandengan tangan melawati suatu fase berat di kehidupan. Suatu sore Nat, begitu sapaan saya padanya, sedikit *memaksa* saya untu duduk. "Dith,Nat buatin MP ya." Ia tersenyum sambil jemarinya asyik menari di atas laptop. Nataya yang memilih theme awal dan yang memasukkan beberapa foto jepretannya ke MP baruku yang dibuatnya termasuk untuk foto ID MP-ku. Karena bukan termasuk orang yg gemar menulis diary ditambah ke-gaptekkanku, MP itu sempat kosong melompong beberapa lama bahkan contact awal hanya 1 yaitu Nataya (hahaha). Dalam persiapan pernikahan,bertambah contact-ku,yaitu teman2 persiapan nikah. Dan setelah anak lahir, terasa benar manfaat MP untuk belanja online apalagi saat saya menggemari GAP Pajamas. (Cerita akan dilanjutkan di part 2 termasuk manfaat MP untuk cari info VBAC dan parenting,juga blogwalking ke site-nya para penulis)
Sabtu, 06 November 2010
Belajar Berhijab
Ini cerita di awal saya mengenal istilah hijab di masa SMA sekitar 20 tahun lalu (hehehe ketahuan dech sudah tua), Sebagai remaja yang "cukup jauh" dari agama, saya ga ngerti yang namanya Rohis dan untuk apa Rohis. Waktu itu saya pikir cuma kegiatan belajar mengaji dan ga butuh lah hal itu,toch saya bisa baca Al Qur'an walo ga bertajwid sama sekali. Sholat pun masih bolong2 kala itu. Agama tak lebih hanya buat status di KTP. Saat itu saya lebih memilih ikut ekskul silat, ini untuk jaga diri aja karena tiap hari naik turun bus ke sekolah. Latihan diadakan tiap Rabu&Sabtu sore dan pastilah butuh waktu 1/2 jam untuk istirahat sholat Maghrib. Pada saat yang sama ekskul lain yaitu taekwondo juga istirahat. Dan disana ada cowo terganteng di sekolahku,anak Panglima Abri masa itu. Nah sebelum wudhu dan sholat, saya dan seorang teman perempuan,sepakat melakukan aksi membuka hijab (tirai panjang) yang memisahkan tempat sholat Ikhwan dan Akhwat. Kami bilang,"Nutup-nutupin aja dari pemandangan bagus (cowo terganteng yg sedang sholat saat itu)." Tindakan yang gubraks dan sangat konyol kalo saya pikir sekarang. Dan langsung saat itu juga kami disemprot omelan oleh senior2 pengasuh rohis. Dan ups kami malah ngotot membantah ga mau nutup dan membiarkan mereka yg nutup kalo mereka mau nutup lagi. Cengengesan dan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Namun kejadian itu membuat saya melihat kegiatan rohis yg berlangsung saat itu. Dan hmm mulai tertarik bahkan sampai kuliah. Ternyata banyak hal yg saya tidak ketahui tentang agama saya. Mungkin saya tipe orang yang mesti "diomelin " dulu ya baru sadar. Ah cowo ganteng, dikau membuat saya melek tentang hijab.
Kamis, 21 Oktober 2010
Kamis, 09 September 2010
Minggu, 08 Agustus 2010
Hati Seluas Samudra
Menjelang memasuki bulan Ramadhan, saya merasa masih harus belajar banyak untuk memaafkan. Dan buat saya, guru yg dekat dan bisa menjadi contoh adalah Papa saya. Terlahir sebagai "darah ndalem" dan benar2 dilahirkan di keraton, tidaklah membuat hidupnya mudah. Perceraian kedua orang tuanya, membuat ia&adiknya semata wayang dibuang ke tengah sawah dekat rumah seorang abdi dalem. Ini agar mempermulus pernikahan kembali Eyang Kakung dengan seorang putri bangsawan. Eyang putri pun menikah kembali dengan seorang tentara. Papa kemudian terpisah dari adiknya. Ia hidup dari 1 keluarga&berpindah ke keluarga lain, hanya agar bisa disekolahkan. Tak heran, meskipun seorang lelaki, Papa jadi ahli masak, cuci, dan membersihkan rumah. Kehidupan memaksa ia mencari uang sendiri untuk membiayai hidupnya. Kelembutan&kasih sayang ALLAH SWT yg memperbaiki hidupnya. Setamat SMP ,ia merantau ke Jakarta. Mencari kerja kantoran agar bisa sekolah di SMA. Ijazah SMP membuat tolakan menjadi santapan harian. Siapa nyana, kebiasaannya untuk menolong seorang nenek yg menjadi tetangganya, membacakan surat dari keluarga (karena si nenek tidak bisa membaca) dan tiap malam Jum'at dzikir Al Fatihah 1000x ditemani lilin( masih susah listrik), berbuah sangat manis. Berbulan2 kegiatan tersebut dilakukannya hanya karena kasihan pada si nenek tetangganya tersebut. Sampai suatu hari, ia dipanggil untuk diperkenalkan dengan salah 1 keponakan si nenek. Bapak tersebut menyuruhnya untuk datang ke kantor si Bapak, di suatu BUMN ternama, keesokan harinya untuk melamar kerja. Dengan membawa ijazah SMP, Papa datang ke kantor tersebut untuk tes kerja. Sesampainya di kantor tujuan. Bukan tes kerja yg dihadapi, melainkan ia langsung diterima jadi staff tanpa tes apapun juga. Gajinya tiap bulan mengantarnya ke SMA, bahkan bisa kuliah di UI. Kehidupan&jabatannya terus menanjak sampai ia pensiun. Dendamkah Papa pada kedua orang tuanya yg telah mebuangnya? Tidak sama sekali. Di masa Eyang Kakung tua, Papa mengunjunginya seminggu sekali, membawakan makanan, uang& mengajak berlibur, sampai Eyang Kakung wafat. Dan sekarang, Eyang Putri sudah beberapa tahun di rumah kami. Di saat Eyang berumur diatas 90 tahun, Papa dengan telaten merawatnya, membantu memandikan, membuat makan, menyuapi dan lain sebagainya. Melihat hal ini saya tidak habis pikir, ya mungkin karena hati saya belum selembut Papa. Perjuangan melembutkan hati dan memaafkan memang masih harus saya tekuni. Papa... bagiku hatimu seluas samudera. (Maaf kalau tidak enak dibaca, karena ditulis dari mobile phone mungil).
Hati Seluas Samudra
Menjelang memasuki bulan Ramadhan, saya merasa masih harus belajar banyak untuk memaafkan. Dan buat saya, guru yg dekat dan bisa menjadi contoh adalah Papa saya. Terlahir sebagai "darah ndalem" dan benar2 dilahirkan di keraton, tidaklah membuat hidupnya mudah. Perceraian kedua orang tuanya, membuat ia&adiknya semata wayang dibuang ke tengah sawah dekat rumah seorang abdi dalem. Ini agar mempermulus pernikahan kembali Eyang Kakung dengan seorang putri bangsawan. Eyang putri pun menikah kembali dengan seorang tentara. Papa kemudian terpisah dari adiknya. Ia hidup dari 1 keluarga&berpindah ke keluarga lain, hanya agar bisa disekolahkan. Tak heran, meskipun seorang lelaki, Papa jadi ahli masak, cuci, dan membersihkan rumah. Kehidupan memaksa ia mencari uang sendiri untuk membiayai hidupnya. Kelembutan&kasih sayang ALLAH SWT yg memperbaiki hidupnya. Setamat SMP ,ia merantau ke Jakarta. Mencari kerja kantoran agar bisa sekolah di SMA. Ijazah SMP membuat tolakan menjadi santapan harian. Siapa nyana, kebiasaannya untuk menolong seorang nenek yg menjadi tetangganya, membacakan surat dari keluarga (karena si nenek tidak bisa membaca) dan tiap malam Jum'at dzikir Al Fatihah 1000x ditemani lilin( masih susah listrik), berbuah sangat manis. Berbulan2 kegiatan tersebut dilakukannya hanya karena kasihan pada si nenek tetangganya tersebut. Sampai suatu hari, ia dipanggil untuk diperkenalkan dengan salah 1 keponakan si nenek. Bapak tersebut menyuruhnya untuk datang ke kantor si Bapak, di suatu BUMN ternama, keesokan harinya untuk melamar kerja. Dengan membawa ijazah SMP, Papa datang ke kantor tersebut untuk tes kerja. Sesampainya di kantor tujuan. Bukan tes kerja yg dihadapi, melainkan ia langsung diterima jadi staff tanpa tes apapun juga. Gajinya tiap bulan mengantarnya ke SMA, bahkan bisa kuliah di UI. Kehidupan&jabatannya terus menanjak sampai ia pensiun. Dendamkah Papa pada kedua orang tuanya yg telah mebuangnya? Tidak sama sekali. Di masa Eyang Kakung tua, Papa mengunjunginya seminggu sekali, membawakan makanan, uang& mengajak berlibur, sampai Eyang Kakung wafat. Dan sekarang, Eyang Putri sudah beberapa tahun di rumah kami. Di saat Eyang berumur diatas 90 tahun, Papa dengan telaten merawatnya, membantu memandikan, membuat makan, menyuapi dan lain sebagainya. Melihat hal ini saya tidak habis pikir, ya mungkin karena hati saya belum selembut Papa. Perjuangan melembutkan hati dan memaafkan memang masih harus saya tekuni. Papa... bagiku hatimu seluas samudera. (Maaf kalau tidak enak dibaca, karena ditulis dari mobile phone mungil).
Senin, 10 Mei 2010
Berbuat untuk Perbaikan.
Seperti biasanya tulisan ini kurang nyaman dibaca karena ditulis dengan HP "biasa". Tulisan tentang kekagumanku pada seorang teman lama, yg baru saja dipertemukan kembali oleh ALLAH SWT. Dia seorang muslimah berjilbab yg menjadi salah satu pimpinan di perusahaan asing terkenal. Sosoknya sangat sederhana&ramah. Dan membuat saya kagum adalah kebaikan hatinya. Ia rela mengajarkan GMAT gratis orang-orang yg baru dikenalnya di dunia maya agar semakin banyak orang bisa memperoleh beasiswa LN. Kiprah terbarunya adalah mendirikan PG&TK idealis yg terjangkau. Saya sebut idealis karena PG&TK ini ingin didirikan lengkap,bermutu dengan merekrut tenaga pengajar berpengalaman&berprestasi. Apa ia ingin memperoleh keuntungan pribadi? Saya hitung2 tidak. Semua hasil uang sekolah&jemputan hanya cukup untuk membayar tenaga bermutu,biaya sewa,biaya bensin&penyediaan fasilitas. Permainan dari yg tradisional sampai modern,kolam renang, sekolah alam yg apik, kolam ikan,berbagai alat musik bahkan para psikolog dan ahli pendidikan dini yg akan menjadi konsultan bagi orang tua murid. Tiap orang tua bahkan sebulan sekali ada kelas khusus agar dapat menerapkan kembali di rumah,metode pengajaran di sekolah. Berapa uang sekolah yg dikutipnya? Yg jelas terjangkau tidak semahal yg terbayang di benak orang2 yg pertama kali mendengar proyek idealis ini. Artinya ia harus nombok dari gaji yg dia peroleh sebagai salah satu pimpinan perusahaan asing terkemuka. Untuk apa ia lakukan semua ini? Sambil tersenyum dia berkata," Agar bisa ikut berpartisipasi menciptakan generasi penerus yg berakhlaq mulia, cerdas dan mandiri. Aku juga ingin memberikan pendidikan yg terjangkau" Kawanku, sungguh mulia cita2mu, dan semoga semakin banyak orang berhati tulus sepertimu.
Langganan:
Postingan (Atom)